• Redaksi
  • Info Iklan
  • Editorial
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Tuesday, November 3, 2026
Ekonomi Pos
  • Home
  • Lifestyle
  • Insight
  • Finance
  • Industry
  • Showbiz
  • Advertorial
  • Daerah
    • Bengkalis
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Rokan Hilir
No Result
View All Result
EkonomiPos.Com
No Result
View All Result

Saat Anak Meminta Ayah Pulang, Angga Harus Tetap Bertahan di Tengah Karhutla

02/11/2026
Share on FacebookShare on Twitter

EKONOMIPOS.COM, SIAK – Panggilan video dari anak yang sedang sakit menjadi salah satu momen paling berat bagi Angga Setiawan ketika menjalankan tugas sebagai petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di ujung panggilan, ada seorang anak yang menginginkan ayahnya segera pulang. Namun, di tempat lain, Angga masih harus menyelesaikan tanggung jawabnya memadamkan api.

“Berat, terlebih lagi kalau anak sedang demam dan video call menyuruh saya pulang,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan Angga selama 12 tahun menjalani pekerjaan sebagai anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Regu Pemadam Kebakaran PT Arara Abadi, unit usaha APP Group.

Pria berusia 32 tahun yang tinggal di Perawang itu harus terbiasa berjauhan dari istri, Dea Tri Oktari, 26 tahun, dan seorang anak mereka. Penugasan yang berlangsung selama berminggu-minggu membuat waktu berkumpul bersama keluarga tidak selalu dapat dilakukan sesuai keinginan.

Di rumah, Dea menjadi sosok yang mengambil alih peran mendampingi anak ketika Angga harus berada di lapangan. Dukungan sang istri sangat membantu, terutama saat anak mereka merasa kehilangan kehadiran ayahnya.

“Untung saja istri saya sangat mendukung. Istri saya mencoba menenangkan anak ketika anak meminta saya pulang,” kata Angga.

Meski kerinduan terhadap keluarga kerap muncul, Angga tetap berusaha menjalankan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Ia memahami bahwa tugas tersebut bukan hanya berkaitan dengan pekerjaan, melainkan juga upaya melindungi masyarakat dari dampak kebakaran.

“Ditambah lagi, pekerjaan ini sangat mulia, menyelamatkan orang banyak supaya tidak terjadi kabut asap,” tuturnya.

Pilihan menjalani profesi ini tentu tidak terlepas dari berbagai pengalaman berbahaya. Salah satunya terjadi ketika Angga dan tim pernah terkepung api saat melakukan pemadaman karhutla.

Ketika melihat sejumlah rekannya mulai panik, Angga berusaha mengarahkan mereka agar tetap tenang. Ia kemudian mengajak seluruh anggota bergerak perlahan menjauh dari kobaran api hingga mencapai sebuah kanal.

Di lokasi tersebut, Angga meminta rekan-rekannya melompat ke air dan berenang bersama. Tidak lama kemudian, mereka mendengar suara speedboat yang ternyata membawa rekan kerja untuk menjemput dan menyelamatkan seluruh anggota tim.

“Tidak lama kami berenang, kami mendengar suara speedboat. Ternyata rekan kerja saya sudah menjemput kami. Alhamdulillah, kami semua selamat dari kobaran api,” kenangnya.

Peristiwa itu menjadi pengalaman paling berat dalam perjalanan pengabdiannya. Namun, ada pula pengalaman lain yang meninggalkan kesan mendalam, terutama ketika ia harus melewatkan momen penting bersama istri.

Saat pernikahan mereka baru berusia empat bulan, Angga dan Dea telah menyiapkan pakaian khusus untuk merayakan Lebaran pertama. Selama bulan puasa, keduanya menjahit pakaian tersebut dengan harapan bisa mengenakannya bersama saat hari raya tiba.

Sayangnya, dua hari sebelum Lebaran, Angga memperoleh tugas pemadaman. Ia pun harus meninggalkan rencana yang telah dipersiapkan bersama sang istri.

“Saya melewatkan momen yang saya tunggu bersama istri saya,” ungkapnya. “Baju yang sudah kami jahit itu dapat kami pakai bersama pada Lebaran kelima.”

Kini, kehadiran anak membuat makna kebersamaan keluarga semakin terasa bagi Angga. Setelah melewati penugasan panjang, hal pertama yang ingin dilakukannya adalah menghabiskan waktu bersama istri dan anak.

Saat kembali ke rumah, ia biasanya meminta waktu libur untuk mengajak mereka berjalan-jalan. Baginya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengganti waktu yang hilang akibat pekerjaan.

“Itulah bentuk melepas kerinduan saya,” ujarnya.

Di tengah tugas yang penuh risiko, Angga tetap menjalankan perannya sebagai seorang ayah. Meski tidak selalu dapat memenuhi permintaan anak untuk segera pulang, ia terus berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarga sekaligus masyarakat yang membutuhkan perlindungan dari ancaman karhutla.***

Share76Tweet47

Kabar Terkait

Berita

Pastikan Pelayanan Optimal, Direksi Jasa Raharja Jenguk Korban Kecelakaan Truk Molen di RS Juwita Bekasi

02/11/2026
Berita

Respons Cepat Kecelakaan di Bekasi, Jasa Raharja Pastikan Seluruh Korban Terjamin Santunan

02/11/2026
Berita

Olah Pakaian Bekas Jadi Produk Bernilai Ekonomi, Program Tangan Kedua PDC Catat Penjualan Rp61 Juta

01/11/2026
Load More
EkonomiPos.Com

We bring you the best Economy News

  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Editorial
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

© 2025 EkonomiPos.com.

No Result
View All Result
  • Home
  • Lifestyle
  • Insight
  • Finance
  • Industry
  • Showbiz
  • Advertorial
  • Daerah
    • Bengkalis
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Rokan Hilir

© 2025 EkonomiPos.com.

Go to mobile version