• Redaksi
  • Info Iklan
  • Editorial
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Wednesday, October 7, 2026
Ekonomi Pos
  • Home
  • Lifestyle
  • Insight
  • Finance
  • Industry
  • Showbiz
  • Advertorial
  • Daerah
    • Bengkalis
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Rokan Hilir
No Result
View All Result
EkonomiPos.Com
No Result
View All Result

Kata Mensos soal BPS Akan Perbarui Indikator Garis Kemiskinan

30/07/2025
Ilustrasi.

Ilustrasi.

Share on FacebookShare on Twitter

Badan Pusat Statistik atau BPS akan memperbaharui indikator pengukuran kesejahteraan masyarakat termasuk acuan garis kemiskinan.

Selama ini, salah satu indikator BPS untuk mengukur garis kemiskinan yakni dari sisi besaran pengeluaran masyarakat sebesar Rp20.305 per hari.

Namun, itu dianggap sudah sangat tidak relevan karena inflasi yang semakin naik.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, pembaruan indikator merupakan bagian dari penyesuaian terhadap perkembangan zaman dan dinamika sosial ekonomi masyarakat.

Pemerintah, kata dia, akan dukungan evaluasi tersebut mengingat data BPS selama ini menjadi acuan penting dalam penyusunan kebijakan kementeriannya.

“Saya kira itu hal yang positif dan perlu kita sambut baik. Kita sendiri tentu menjadikan data BPS sebagai pedoman,” ujar Gus Ipul kepada wartawan, Selasa, 29 Juli 2025.

Saat ini, berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, BPS menetapkan garis kemiskinan sebesar Rp609.160 per kapita per bulan atau setara Rp20.305 per hari.

Masyarakat dengan pengeluaran di bawah angka tersebut dikategorikan sebagai miskin.

Meski mendukung rencana revisi indikator, Gus Ipul mengingatkan bahwa perubahan tersebut akan berdampak pada penilaian kinerja instansi pemerintah, termasuk Kementerian Sosial.

“Kalau indikatornya berubah, misalnya dari Rp500.000 menjadi Rp700.000, padahal kita sedang bekerja dengan tolok ukur lama, tentu hasil evaluasinya akan tampak berbeda. Begitu juga saat garis kemiskinan ekstrem dinaikkan dari Rp300.000 menjadi Rp400.000, angka kemiskinan otomatis terlihat naik,” jelasnya.

Agar evaluasi kinerja tetap adil dan proporsional, Gus Ipul mengusulkan agar BPS tetap mempertahankan indikator lama sebagai pembanding saat transisi ke indikator baru.

“Sebaiknya kedua ukuran tetap ada — yang lama dan yang baru — supaya kita bisa lihat perbandingan kinerja pemerintah secara objektif. Kalau hanya pakai ukuran baru, bisa muncul gejolak statistik,” pungkasnya.***

Share76Tweet47

Kabar Terkait

Hadiri Munas XVII ORGANDA, Jasa Raharja Dorong Keselamatan sebagai Fondasi Transportasi
Berita

Hadiri Munas XVII ORGANDA, Jasa Raharja Dorong Keselamatan sebagai Fondasi Transportasi

07/10/2026
Perkuat Kepatuhan Pajak di Provinsi Kepri, Tim Pembina Samsat Nasional Dorong Pelayanan yang Lebih Mudah dan Adaptif
Berita

Perkuat Kepatuhan Pajak di Provinsi Kepri, Tim Pembina Samsat Nasional Dorong Pelayanan yang Lebih Mudah dan Adaptif

07/10/2026
Pastikan Data Tagihan Rumah Sakit Akurat, Jasa Raharja Riau Kawal Penuntasan Guarantee Letter
Berita

Pastikan Data Tagihan Rumah Sakit Akurat, Jasa Raharja Riau Kawal Penuntasan Guarantee Letter

06/10/2026
Load More
EkonomiPos.Com

We bring you the best Economy News

  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Editorial
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

© 2025 EkonomiPos.com.

No Result
View All Result
  • Home
  • Lifestyle
  • Insight
  • Finance
  • Industry
  • Showbiz
  • Advertorial
  • Daerah
    • Bengkalis
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Rokan Hilir

© 2025 EkonomiPos.com.

Go to mobile version