Gerak Harga Perak Kian Semarak

by

EKONOMIPOS.COM (EPC), JAKARTA – Harga perak berhasil terbang menembus level tertinggi sejak Oktober 2013. Mengutip Bloomberg, Rabu (13/7) kontrak harga perak pengiriman September 2016 di Commodity Exchange terbang 1,18% ke US$ 20,41 per ons troi.

Dalam sepekan, harga komoditas ini sudah melesat sekitar 1,03%. Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, saat ini situasi global tak menentu.

“Penuh ketidakpastian, maka perak sebagai komoditas logam mulia yang berperan safe haven menjadi incaran,” katanya.

Memang pergerakan harga perak ini sejalan dengan harga emas yang juga masih berkilau. Pasar masih cemas, prediksi mereka kembali meleset, artinya tidak ada pelonggaran stimulus tambahan dari bank sentral China dan Jepang. Kalau itu terjadi, bukan tidak mungkin kenaikan harga perak akan semakin tinggi.

Belum berhenti di situ, pernyataan Presiden Bank Sentral AS (The Fed) St. Louis James Bullard bernada dovish. Ia melihat, dengan terjadinya Brexit maka peluang The Fed menaikkan suku bunga dalam waktu dekat harus ditunda dahulu.

Ketidakstabilan ekonomi global seperti ini akan mempengaruhi prospek ekonomi negeri adidaya tersebut ke depan. Efeknya, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Juli 2016 ini dipandang hanya 4%.

“Hal ini merontokkan nilai USD, yang kemudian melambungkan harga perak,” jelas Ibrahim.

Karena itu pada Kamis (14/7), kenaikan harga perak diprediksi masih akan berlanjut. Dalam jangka pendek, belum ada katalis negatif yang bisa menjegal laju komoditas ini.

Kepemilikan aset perak di Ishares Silver Trust Holdings masih belum berubah dan berada di level atas yakni 10.620 metrik ton. “Memang permintaan perak masih tinggi, tapi perlu diperhatikan jika harga terus naik, di masa datang permintaan bisa menyusut,” terang Ibrahim.

Sebab dengan tingginya harga jual, pelaku pasar pasti akan berpikir dua kali sebelum membeli perak. Hal tersebut bisa menjadi batu sandungan bagi harga ke depan. Ditambah lagi muncul laporan dari salah satu produsen perak terbesar dunia, Fortuna Silver Mines yang mencatatkan penambahan produksi.

“Kalau produksi naik, harga naik, sementara permintaan mengering, harga bisa koreksi lagi,” tebak Ibrahim.

Meski demikian, Ibrahim optimistis hingga akhir pekan nanti harga perak akan terus naik mengejar level US$ 21,10 per ons troi. Dukungan juga masih terlihat dari sisi teknikal. Indikator moving average dan bollinger band bergerak 60% di atas bollinger tengah, yang artinya mendukung naik.

Begitu juga dengan garis moving average convergence divergence (MACD) dan stochastic yang keduanya di area 70% positif, masih mengajak naik. Tidak ketinggalan tren bullish juga ditunjukkan oleh relative strength index (RSI) level 60% positif.

Maka, Ibrahim menduga Kamis (14/7) harga perak naik di rentang US$ 20,15 sampai US$ 20,66 per ons troi dan sepekan US$ 19,8 hingga US$ 21,1 per ons troi. (Bisnis)