TIKI Luncurkan Self Service Machine Dan Drive-Thru

by

EKONOMIPOS.COM (EPC),JAKARTA – PT Citra Van Titipan Kilat meluncurkan layanan jasa kurir berbasis teknologi yaitu self service machine dan drive-thru dengan nilai investasi sekitar Rp100 juta per unit.

Yulina Hastuti, Presiden Direktur PT Citra Van Titipan Kilat atau TIKI mengatakan saat ini TIKI sudah membuat satu mesin yaitu self service machine yang ditempatkan di Kantor Pusat TIKI, Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat. Pasalnya, sampai dengan akhir 2018 pihaknya akan memproduksi self-service machine untuk ditempatkan di beberapa lokasi mall bukan hanya di kantor layanan TIKI saja.

“Ini adalah yang pertama, dan kami akan melakukan evaluasi dulu tiga sampai enam bulan ke depan barulah kami akan melakukan penambahan di beberapa lokasi,” kata Yulina di Kantor Pusat TIKI, Kamis (1/9/2016).

Mesin berbentuk segi empat itu menyediakan layar computer bagi konsumen untuk mengisi sendiri data lengkap pengirim, jenis barang, alamat pengiriman. Nantinya, pengirim juga harus menimbang barang di timbangan digital yang disediakan. Setekah ditimbang, akan keluar harga yang sesuai dengan tujuan dan berat. Pembayaran juga dilakukan melalui sistem dompet elektronik.

Adapun investasi pengadaan mesin self service machine berkisar Rp100 juta per unit karena memakai banyak komponen dan juga memakai x-ray untuk mendeteksi barang. Sementara nilai investasi untuk layanan drive-thru menggelontorkan investasi sekitar Rp30 juta

Kata Yulina, untuk menempatkan layanan self service machine di beberapa mall membutuhkan beberapa kajian berupa keamanan barang yang ditinggalkan.

“Barang yang dikirimkan akan bersama dengan barang yang lain, kami ingin barang-barang ini aman, karena mesin ini khusus untuk pelanggan dan ritel, supaya mereka tidak perlu mengantri terlalu lama di counter,” jelasnya.

Rocky Nagoya, Managing Director TIKI membenarkan bahwa mesin self service machine akan dibuka ke beberapa mal. Meskipun demikian, TIKI akan menyasar mal-mal yang tidak memiliki kepentingan bisnis sejenis, atau mal yang tidak memiliki layanan jasa kurir sendiri.

“Kami ingin menyasar mal-mal, atau supermarket yang tidak memiliki bisnis sejenis supaya tidak ada conflict of interest nantinya,” terang Rocky

Selain menyasar mal dan supermarket, kata Rocky, TIKI akan menambah self sevice machine di seluruh Jabodetabek, masing-masing satu unit di setiap kantor operasional. Hal itu sebagai upaya bertahap untuk memperkenalan mekanisme kerja tersebut kepada pengguna.

“Mesin self service machine ini bisa menampung mungkin sekitar 50 sampai 100 dokumen atau paket,” jelas Rocky.

Sementara untuk layanan drive-thru, atau penimbunan barang juga masih akan ditempatkan di kantor pusat TIKI. Selanjutnya, secara bertahap, mesin untuk mendata formulis secara mandiri, dan menyimpan paket untuk dikirimkan.

Saat ini, TIKI sendiri memiliki total agen di Jabodetabek sebanyak 300 dan sampai akhir 2016, TIKI masih akan menambah sekitar 50 agen khusus di Jakarta. Total agen TIKI seluruh Indonesia sekitar 5000 agen.

Sekalipun sudah melakukan inovasi teknologi, TIKI masih akan menambah jumlah agen sampai ke tingkat internasional. Salah satu langkahnya adalah bekerjasama dengan perusahaan jasa kurir di Malaysia, Singapura, dan Timur Tengah.

Adapun pangsa pasar internasional TIKI mayoritas di Singapura, Malaysia, dan Hongkong. Adapun 35% dari total pangsa pasar TIKI adalah barang-barang e-commerce. Oleh sebab itu, TIKI sudah membuat tarif baru untuk barang ke internasional, khususnya ke Malaysia, Singapura, dan Abu Dhabi.

 

(Bisnis)