• Redaksi
  • Info Iklan
  • Editorial
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Wednesday, October 7, 2026
Ekonomi Pos
  • Home
  • Lifestyle
  • Insight
  • Finance
  • Industry
  • Showbiz
  • Advertorial
  • Daerah
    • Bengkalis
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Rokan Hilir
No Result
View All Result
EkonomiPos.Com
No Result
View All Result

Kakao Bisa Jadi Komoditi Perkebunan Diandalkan Indonesia, Ini Buktinya

15/11/2024
Share on FacebookShare on Twitter

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan peningkatan ekspor kakao Indonesia, didorong oleh kenaikan harga komoditas tersebut di pasar internasional.

Plt. Kepala BPS Amalia A. Widyasanti mengungkapkan bahwa rata-rata harga kakao sepanjang Januari hingga Oktober 2024 mencapai US$6,97 per kilogram, naik 112,58% dibandingkan harga rata-rata tahun 2023 yang hanya sebesar US$3,28 per kilogram.

“Rata-rata harga kakao di pasar internasional pada periode Januari-Oktober 2024 sebesar US$6,97 per kilogram, atau naik 112,58% dibandingkan rata-rata harga sepanjang 2023,” kata Amalia.

Adapun volume ekspor kakao Indonesia juga menunjukkan peningkatan. Hingga Oktober 2024, volume ekspor mencapai 288,25 ribu ton, naik 1,92% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebanyak 282,81 ribu ton. Kenaikan harga dan volume ekspor ini mendorong peningkatan nilai ekspor kakao Indonesia sepanjang tahun.

Pada Oktober 2024, negara tujuan utama ekspor kakao Indonesia meliputi India dengan 6.500 ton (US$64,4 juta), Amerika Serikat dengan 2.500 ton (US$51,4 juta), dan China dengan 3.500 ton (US$31,2 juta). Ekspor kakao Indonesia didominasi oleh produk olahan seperti mentega, lemak, dan minyak kakao (HS 1804), yang mencapai 66,81% dari total nilai ekspor kakao tahun 2024.

Nilai ekspor kakao dan produk olahannya (HS18) pada Januari-Oktober 2024 tercatat mencapai US$2,01 miliar, meningkat 104,58% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$0,98 miliar. Kinerja positif ini menjadikan kakao sebagai salah satu komoditas dengan pertumbuhan ekspor tertinggi.

Meski nilai ekspor beberapa komoditas unggulan seperti bahan bakar mineral, minyak hewani, dan besi baja mengalami penurunan, Amalia menyebutkan bahwa kenaikan ekspor nonmigas lainnya mampu menyeimbangkan penurunan tersebut. Hingga Oktober 2024, ekspor nonmigas Indonesia masih mencatatkan peningkatan secara kumulatif.

Beberapa komoditas yang mengalami peningkatan nilai ekspor antara lain logam mulia dan perhiasan (HS71) naik US$1,68 miliar, barang dari besi dan baja (HS73) naik US$1,54 miliar, tembaga (HS74) naik US$1,09 miliar, dan kakao serta olahannya (HS18) naik US$1,03 miliar.***

Share76Tweet47

Kabar Terkait

Perkuat Kepatuhan Pajak di Provinsi Kepri, Tim Pembina Samsat Nasional Dorong Pelayanan yang Lebih Mudah dan Adaptif
Berita

Perkuat Kepatuhan Pajak di Provinsi Kepri, Tim Pembina Samsat Nasional Dorong Pelayanan yang Lebih Mudah dan Adaptif

07/10/2026
Pastikan Data Tagihan Rumah Sakit Akurat, Jasa Raharja Riau Kawal Penuntasan Guarantee Letter
Berita

Pastikan Data Tagihan Rumah Sakit Akurat, Jasa Raharja Riau Kawal Penuntasan Guarantee Letter

06/10/2026
Jasa Raharja Riau dan Tim Pembina Samsat Lakukan Rapat Koordinasi Perizinan Angkutan Umum
Berita

Jasa Raharja Riau dan Tim Pembina Samsat Lakukan Rapat Koordinasi Perizinan Angkutan Umum

06/10/2026
Load More
EkonomiPos.Com

We bring you the best Economy News

  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Editorial
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

© 2025 EkonomiPos.com.

No Result
View All Result
  • Home
  • Lifestyle
  • Insight
  • Finance
  • Industry
  • Showbiz
  • Advertorial
  • Daerah
    • Bengkalis
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Rokan Hilir

© 2025 EkonomiPos.com.

Go to mobile version