Hanya 30 Persen Beras Lokal Terserap Bulog Drive Riau-Kepri

by

EKONOMIPOS.COM PEKANBARU – Badan Urusan Logistik (Bulog) Drive Riau-Kepri hanya mampu menyerap beras lokal sekitar 20 sampai 30 persen saja. Angka ini tentunya masih sangat jauh dari harapan, apalagi mengingat Riau bukan daerah produsen beras.

Hal ini dibenarkan oleh Humas Bulog Drive Riau-Kepri, Fadli, saat dihubungi bertuahpos.com, Selasa 20 Maret 2018 di Pekanbaru. “Iya angkanya sekira 20 sampai 30 persen,” katanya.

Dia menambahkan, selain masalah jumlah yang sedikit, kekurangan beras lokal juga ada pada kualitas yang rendah. Selain itu masa panen lama sehingga tidak memungkinkan jika harus bergantung sepenuhnya dengan beras lokal di Riau.

“Banyak kendalanya. Mulai dari masa panen dan kualitasnya juga sangat rendah,” tambah Fadli.

Sementara soal harga, dia menyebut memang harga gabah petani lebih tinggi, dan mereka tidak ingin menjual karena masalah harga ini tidak cocok.

“Soal harga yang mereka minta ke kita juga tinggi, makanya agak sulit. Memang ada beberapa yang mau menjual ke Bulog tapi jumlahnya tidak banyak,” sambungnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kabupaten Siak merupakan salah satu daerah di Riau dengan produksi gabah cukup tinggi. Namun sayangnya hasil panen gabah itu tidak diproduksi lokal untuk dijadikan beras, tapi dijual ke tengkulak dan dibawa ke luar Riau.

“Iya, kami jual gabah ke tengkulak Medan,” kata Sugeng, seorang petani di kawasan Bunga Raya, Kabupaten Siak, Selasa 20 Maret 2018.

Alasan sugeng menjual hasil panen gabahnya ke tengkulak asal Medan tentunya saja ihwal harga yang lebih tinggi. Sebab Bulog tidak berani mengambil harga di atas harga yang ditawarkan oleh tengkulak dari Medan itu.

“Beberapa kali kalau saya pernah jual ke Bulog tapi harganya sangat jauh. Bahkan tidak menutup modal. Kalau ke tengkulak harganya lebih tinggi dan petani bisa untung,” katanya.

Sama dengan Sumiato, petani di siak saat diwawancarai bertuahpos.com, awal tahun 2018 lalu dia mengatakan bahkan sebagian besar petani memilih jual hasil panen gabahnya ke tengkulak ketimbang ke Bulog.

“Hasil panen petani disini jualnya ke Tengkulak, walaupun ada yang ke Bulog itu jarang,  kebanyakan ya di Tengkulak,”ujar Sugianto. “Kalau dijual ke Bulog harganya lebih murah dibanding ke Tengkulak, perbedaannya cukup tinggi,” sebutnya.

Meskipun di Kecamatan Bunga Raya tersedia kantor Bulog, namun para petani memilih menjual hasil panennya pada tengkulak yang ada di Sumatra Utara.

Sukri, bapak 2 anak ini punya setengah hektare sawah ini, juga menjual hasil padinya ke tengkulak ketimbang bulog, “Kalo dijual ke bulog harganya enggak sebanding, bulog cuma berani kasih harga Rp 3.700, sedangkan tengkulak Rp 3.900 sampai Rp 4.500,” katanya.(*)