• Redaksi
  • Info Iklan
  • Editorial
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Saturday, October 10, 2026
Ekonomi Pos
  • Home
  • Lifestyle
  • Insight
  • Finance
  • Industry
  • Showbiz
  • Advertorial
  • Daerah
    • Bengkalis
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Rokan Hilir
No Result
View All Result
EkonomiPos.Com
No Result
View All Result

Tingkatkan Pendapatan Petani Karet, Sumut Bentuk UPPB

26/09/2016
Share on FacebookShare on Twitter

EKONOMIPOS.COM (EPC),MEDAN–Untuk meningkatkan pendapatan petani karet, Dinas Perkebunan Sumatra Utara akan terus membentuk Unit Pengolahan dan Pemasaran Bersama (UPPB). UPPB memungkin para petani menjual bahan olahan karet (bokar) kepada pabrik crumb rubber dengan harga lebih tinggi.

Kepala Bidang Usaha Tani Disbun Sumut Syahrida Khairani menuturkan, hingga saat ini pihaknya baru membentuk UPPB di tiga kabupaten yakni Serdang Bedagai, Deli Serdang, dan Tapanuli Selatan.

“Pada tahun depan, kami akan mengusahakan membentuk banyak UPPB di daerah lain. Sumut ini banyak daerah yang sentra produksi karet seperti Asahan, Labuhan Batu, Nias, Padang Lawas, Padang Lawas Utara dan masih banyak lagi. Selain itu, kami masih akan mengawal ketiga UPPB yang menjadi pilot project,” papar Syahrida, Senin (26/9).

Lebih lanjut, dia menjelaskan, saat ini petani yang menjual bokar melalui UPPB mampu mendapatkan harga yang lebih tinggi Rp2.000 per kg. Sebelum ada UPPB, harga jual di petani mencapai Rp5.500-Rp6.500 per kg.

Adapun, bagi ketiga UPPB yang sudah ada, Disbun Sumut telah memberi bantuan alat pengolahan, seperti pisau sadap, mangkok penampungan hasil hingga cetakan karet dan asam semut.

“Di UPPB Serdang Bedagai dan Tapanuli Selatan, kami juga sudah mendirikan gudang. Cukup untuk menampung hasil satu gapoktan. Kami akan terus membina tiga UPPB ini sampai mereka betul-betul bisa bermitra dengan pabrik.”

Kendati demikian, Syahrida mengakui pembentukan UPPB di daerah lain masih mengalami banyak kendala, di antaranya alokasi anggaran untuk bantuan peralatan dan gudang dan mampu menghasilkan karet kering 800 kg dalam 3 hari. Banyak petani mengakui kesulitan karena terbiasa menjual sendiri. Selain itu, pabrik juga meminta kualitas bokar yang dijual langsung oleh petani berstandar sama.

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut pun memfasilitasi penjualan bokar melalui UPPB. Sekretaris Gapkindo Sumut Edy Irwansyah menjelaskan, skema penjualan tersebut justru tak hanya menguntungkan petani, tapi juga pabrik.

“Salah satu syaratnya adalah bokar harus sesuai SNI. Bersih, tidak ada campurannya. Biasanya digumpalkan dengan asam semur atau asap cair sehingga karakteristik elastisitas karet terjaga. Sekarang kan kebanyakan petani pakai pupuk TSP,” pungkasnya.

 

(Bisnis)

Share76Tweet47

Kabar Terkait

Direktur Keuangan Jasa Raharja Kunjungi Gubernur Riau, Bahas Peningkatan Penerimaan dan Perlindungan Korban Kecelakaan Lalu Lintas
Berita

Direktur Keuangan Jasa Raharja Kunjungi Gubernur Riau, Bahas Peningkatan Penerimaan dan Perlindungan Korban Kecelakaan Lalu Lintas

09/10/2026
Melalui Retrospeksi Korban Laka Lantas, Jasa Raharja dan Korlantas Polri Ajak Masyarakat Jadikan Keselamatan sebagai Prioritas
Berita

Melalui Retrospeksi Korban Laka Lantas, Jasa Raharja dan Korlantas Polri Ajak Masyarakat Jadikan Keselamatan sebagai Prioritas

09/10/2026
Hadiri Munas XVII ORGANDA, Jasa Raharja Dorong Keselamatan sebagai Fondasi Transportasi
Berita

Hadiri Munas XVII ORGANDA, Jasa Raharja Dorong Keselamatan sebagai Fondasi Transportasi

07/10/2026
Load More
EkonomiPos.Com

We bring you the best Economy News

  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Editorial
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

© 2025 EkonomiPos.com.

No Result
View All Result
  • Home
  • Lifestyle
  • Insight
  • Finance
  • Industry
  • Showbiz
  • Advertorial
  • Daerah
    • Bengkalis
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Rokan Hilir

© 2025 EkonomiPos.com.

Go to mobile version