Panen Bawang Putih Di Batang Tembus 14 Ton/Ha

by

EKONOMIPOS.COM (EPC),SEMARANG—Bank Indonesia perwakilan Tegal Jawa Tengah beserta petani bawang putih di Kabupaten Batang melakukan panen demplot bawang putih yang mampu menghasilkan panen sebanyak 14 ton/hektare.

Panen yang berlangsung di Kecamatan Bawang itu melibatkan gabungan kelompok tani atau Gapoktan Peni Murni dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Batang.

Joni Marsius, Kepala BI Perwakilan Tegal, mengatakan hasil panen itu dinilai cukup baik sehingga budidaya bawang putih sangat layak di kembangkan di Kabupaten Batang.

Dari informasi data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) harga bawang putih ditingkat konsumen di Jateng pada Rabu, 12 Oktober 2016 sebesar Rp34.000/kg.

Adapun, dengan perkiraan harga ditingkat petani senilai Rp15.000/kg maka perhektar lahan sudah mampu mendatangkan hasil sebesar Rp210 juta.

Dia menerangkan dari besaran harga di tingkat konsumen dan produksi per hektare lahan maka cukup memberikan semangat bagi petani di Kecamatan Bawang, khususnya untuk mengembangkan bawang putih di Kabupaten Batang pada 2017 yang akan datang.

“Kami bersama petani setempat panen bawang putih di atas lahan seluas 1,2 ha di Kabupaten Batang. Hasilnya lumayan, per hektare mampu menghasilkan 14 ton bawang putih,” paparnya, Kamis (13/10).

Joni menjelaskan hasil panen bawang putih itu dilakukan penyimpanan sesuai Standard Operating Procedure atau SOP agar dapat dijadikan bibit untuk musim tanam berikutnya.

Kedepan, katanya, pengembangan Bawang Putih varietas Tawangmangu Baru itu akan diperluas di daerah sekitar Kecamatan Bawang yang secara geografis sangat cocok untuk digunakan sebagai lahan budidaya bawang putih.

Melihat hasil panen demplot tersebut, imbuhnya, Bank Indonesia Tegal berharap pengembangan bawang putih di Kabupaten Batang dapat menjadi salah satu cikal bakal budidaya bawang putih di Jateng, dan ke depannya mampu memberikan peranan dalam pemenuhan konsumsi dalam negeri.

Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan pasokan bawang putih dalam negeri 95% didominasi oleh impor dan hanya 5% yang berasal dari dalam negeri.

“Pengembangan itu diharapkan mampu menjadi salah satu langkah pengendali inflasi komoditas volatile food (pangan bergejolak) karena bawang putih termasuk salah satu komoditi penyumbang inflasi,” terangnya.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Batang Migayani Thamrin mengatakan dampak dari La Nina tahun ini menyebabkan curah hujan di Jateng pada umumnya masih tinggi, kondisi itu diperkirakan masih berlangsung hingga akhir tahun ini.

Menurutanya, cuaca ekstrim saat ini membawa dampak pada komoditas pertanian khususnya hortikultura yang mengalami penurun produksi, sehingga tidak sedikit kerugian yang terjadi di tingkat petani.

“Kondisi alam tidak bisa disalahkan, tapi bagaimana menyikapinya dengan melakukan penanaman yang menggunakan bibit unggul, termasuk bawang putih. Walaupun cuaca ekstrim namun hasil panen tetap menunjukkan hasil yang baik,” paparnya.

Untuk mengantisipasi kerugian yang berpotensi mengakibatkan gagal panen, lanjut Migayani, maka petani telah melakukan antisipasi dilahan dengan teknologi pertanian dan pencegahan lainnya seperti penyemprotan dengan fungisida atau organik lainnya untuk mencegah jamur yang dengan cepat berkembang pada musim hujan.

 

(Bisnis)