• Redaksi
  • Info Iklan
  • Editorial
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Thursday, October 8, 2026
Ekonomi Pos
  • Home
  • Lifestyle
  • Insight
  • Finance
  • Industry
  • Showbiz
  • Advertorial
  • Daerah
    • Bengkalis
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Rokan Hilir
No Result
View All Result
EkonomiPos.Com
No Result
View All Result

Pengembangan Industri Gas Di Indonesia Tidak Mudah

07/10/2016
Share on FacebookShare on Twitter

EKONOMIPOS.COM (EPC),JAKARTA – Mengembangkan industri gas di Indonesia tidak lebih mudah dari minyak walau secara fungsi gas lebih efisien, masih banyak tantangan yang dihadapi, ungkap Vice President of the Liquefied Natural Gas (LNG) PT Pertamina Didik Sasongko.

“Secara pasti yang membuat industri gas kurang maksimal berkembang adalah masih banyak infrastruktur yang harus disiapkan,” kata Didik ketika berdiskusi dengan para pewarta di Jakarta, Jumat (7/10/2016).

Ia mengatakan manfaat gas LNG sebenarnya lebih bagus daripada LPG, karena lebih berisiko rendah. Secara fisik, LNG lebih ringan, sehingga jika terjadi kebocoran gas akan ke atas (menguap), tidak bersifat membakar ke bawah seperti LPG.

Selain itu, proyeksi infrastruktur masih tumpang tindih, belum ada perencanaan yang matang agar mudah dan rapi secara desain.

Kemudian upaya pembebasan lahan juga menjadi kendala dalam perluasan distribusi gas melalui pipa. Master plan perlu dimatangkan guna menyesuaikan permintaan pasar.

Regulasi juga menjadi kendala dalam mekanisme pasar. Seperti pengaruh harga dengan minyak mentah yang jarak marginnya harus diatur dengan wajar, juga pengaruh nilai tukar terhadap dolar AS masih menjadi risiko tinggi.

Komitmen pasokan gas untuk mampu memenuhi permintaan harus berjangka sekitar empat sampai lima tahun, guna membangun infrastruktur yang sesuai, namun kepastian jangka panjang tersebut yang susah didapatkan.

Ia juga menjelaskan bahwa jangka waktu persiapan yang diterima untuk menata waktu pengembangan terhadap permintaan pasar masih menjadi tantangan tersendiri mengingat banyak tempat yang meminta namun masih memiliki infrastruktur yang belum memadai.

“Membangun infrastruktur di Jakarta untuk jaringan pipa, itu sama mahalnya dengan membangun jaringan di daerah Ginza, Tokyo, di mana daerah tersebut saat ini memperoleh predikat sebagai harga tanah yang paling tinggi di dunia. Kenapa bisa seperti itu? saya juga tidak tahu, nanti bisa timbul fitnah,” katanya.

 

(Bisnis)

Share76Tweet47

Kabar Terkait

Hadiri Munas XVII ORGANDA, Jasa Raharja Dorong Keselamatan sebagai Fondasi Transportasi
Berita

Hadiri Munas XVII ORGANDA, Jasa Raharja Dorong Keselamatan sebagai Fondasi Transportasi

07/10/2026
Perkuat Kepatuhan Pajak di Provinsi Kepri, Tim Pembina Samsat Nasional Dorong Pelayanan yang Lebih Mudah dan Adaptif
Berita

Perkuat Kepatuhan Pajak di Provinsi Kepri, Tim Pembina Samsat Nasional Dorong Pelayanan yang Lebih Mudah dan Adaptif

07/10/2026
Pastikan Data Tagihan Rumah Sakit Akurat, Jasa Raharja Riau Kawal Penuntasan Guarantee Letter
Berita

Pastikan Data Tagihan Rumah Sakit Akurat, Jasa Raharja Riau Kawal Penuntasan Guarantee Letter

06/10/2026
Load More
EkonomiPos.Com

We bring you the best Economy News

  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Editorial
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

© 2025 EkonomiPos.com.

No Result
View All Result
  • Home
  • Lifestyle
  • Insight
  • Finance
  • Industry
  • Showbiz
  • Advertorial
  • Daerah
    • Bengkalis
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Rokan Hilir

© 2025 EkonomiPos.com.

Go to mobile version