EKONOMIPOS.COM – Antrean panjang kendaraan terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Teheran setelah Amerika Serikat mengumumkan rangkaian sanksi baru AS terhadap Iran. Deretan mobil dan sepeda motor terlihat menunggu untuk memperoleh bahan bakar pada Selasa (25/8/2026), sementara kekhawatiran terhadap tekanan ekonomi mulai dirasakan sebagian warga ibu kota Iran.
Tekanan Washington terhadap Teheran kembali meningkat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengancam Iran dengan isolasi ekonomi dalam skala besar. Bessent mengatakan Washington akan mengombinasikan tekanan finansial dengan langkah yang menyasar aktivitas pelabuhan Iran.
Bessent sebelumnya menyampaikan bahwa langkah baru terhadap Iran akan diumumkan lebih lanjut. Ia juga menyinggung kemungkinan blokade berkelanjutan di Selat Hormuz yang dapat menghambat pergerakan barang masuk maupun keluar melalui pelabuhan-pelabuhan Iran.
Strategi Washington disebut menggunakan dua jalur, yakni tekanan keuangan dan blokade fisik terhadap pelabuhan. Sikap tersebut berbeda dengan pernyataan Bessent pada 4 Agustus 2026 ketika ia mengatakan kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat dicapai dalam hitungan hari.
Departemen Keuangan AS sebelumnya juga memperluas sanksi terhadap jaringan pelayaran dan keuangan Iran pada Juli 2026. Langkah tersebut dilakukan menyusul serangan baru Teheran terhadap kapal-kapal internasional di Selat Hormuz.
Di Teheran, dampak tekanan ekonomi itu memunculkan kecemasan di kalangan warga. Mehdi Yazdian, seorang agen properti berusia 55 tahun, mengatakan sanksi memengaruhi kehidupan masyarakat dari berbagai kelompok ekonomi. Ia juga meminta pemerintah Iran mengendalikan harga di tengah tekanan yang terjadi.
Iran memang telah menghadapi inflasi tinggi sebelum perang pecah. Situasi ekonomi tersebut sebelumnya memicu demonstrasi antipemerintah secara nasional yang mencapai puncaknya pada Januari, sebelum kemudian diredam oleh otoritas Teheran dalam penindakan yang dilaporkan menewaskan ribuan orang.
Kekhawatiran bahwa tekanan ekonomi dapat kembali memicu keresahan turut disampaikan Kia Farahani, guru Bahasa Inggris berusia 45 tahun. Ia menilai perang yang dihadapi masyarakat Iran dapat lebih banyak berlangsung melalui tekanan ekonomi dan berpotensi memunculkan aksi protes kembali.
Ketegangan juga meningkat setelah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengancam akan menghentikan ekspor minyak melalui kawasan Teluk apabila negara-negara di kawasan ikut dalam operasi sanksi ekonomi terbaru AS. Iran memperingatkan negara yang bergabung dengan kebijakan Washington akan dipandang sebagai musuh.
Rezaei menyatakan Iran dapat merespons dengan mengganggu ekspor energi regional. Ia memperingatkan minyak tidak akan dapat keluar melalui Selat Hormuz maupun Teluk Persia apabila langkah tersebut dijalankan, bahkan jalur alternatif pengangkutan minyak di luar kawasan Teluk juga disebut dapat menjadi target jika konfrontasi meningkat.



