EKONOMIPOS.COM – Tiga minggu tanpa kabar dari anaknya menjadi masa yang penuh kecemasan bagi Sontina br Munthe (57). Biasanya, Ardinata Tarigan selalu menghubungi keluarga setidaknya sekali dalam seminggu. Namun, saat menjalankan tugas pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi, komunikasi itu terputus.
Sontina yang tinggal di kampung halaman keluarga di daerah Medan berulang kali mencoba menghubungi putranya. Namun, teleponnya tidak tersambung. Ia pun mulai memikirkan berbagai kemungkinan, terlebih Ardinata bekerja sebagai petugas pemadam karhutla yang harus menghadapi api, asap tebal, dan kondisi lapangan yang tidak menentu.
“Biasanya seminggu sekali sudah pasti menghubungi dan menanyakan kabar. Tapi waktu itu sampai tiga minggu tidak bisa dihubungi. Jadi perasaan takut dan khawatir. Anak ini ke mana, tidak ada kabar,” tutur Sontina.
Tidak ingin terus menunggu tanpa kepastian, Sontina berusaha mencari nomor telepon rekan kerja Ardinata. Upaya itu akhirnya membuahkan hasil. Dari salah seorang teman putranya, ia mengetahui bahwa Ardinata sedang menjalankan tugas bantuan pemadaman karhutla di wilayah Jambi.
Keterbatasan jaringan telekomunikasi di lokasi penugasan menjadi penyebab Ardinata sulit dihubungi. Informasi tersebut membuat Sontina sedikit lega karena akhirnya mengetahui keberadaan putranya setelah berminggu-minggu diliputi kekhawatiran.
Ardinata telah bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran sejak 2013. Ia mengawali karier sebagai anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Arara Abadi di Distrik Duri 3. Pada 2018, ia mengikuti seleksi dan pelatihan untuk bergabung dengan Tim Reaksi Cepat (TRC). Kini, ia bertugas di TRC Perawang, Riau.
Selama menjalankan pekerjaan, Ardinata menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Perubahan arah angin, asap yang semakin tebal, hingga api yang melompat ke area lain dapat membuat proses pemadaman terpaksa dihentikan sementara.
“Kadang angin tiba-tiba kencang, kadang api melompat. Itu yang membuat tim harus mundur dan menunggu momen yang tepat untuk melakukan pemadaman,” tutur Ardinata.
Situasi tersebut membuat petugas harus mengutamakan keselamatan sebelum kembali mendekati titik api. Bahkan, pekerjaan terkadang baru bisa dilanjutkan pada malam hari ketika kondisi angin lebih memungkinkan.
Di balik tugas tersebut, Ardinata tetap memikirkan keluarga yang menunggu di kampung halaman. Meski telah lama merantau ke Riau, ia mengaku selalu merindukan orang tuanya, terutama setelah menjalani penugasan berhari-hari.
Sontina memahami pekerjaan putranya memiliki tanggung jawab besar. Ia bangga Ardinata ikut membantu menangani kebakaran yang berpotensi menimbulkan kabut asap dan mengganggu aktivitas masyarakat. Namun, sebagai ibu, ia tidak bisa menghilangkan rasa takut terhadap risiko yang mungkin dihadapi anaknya.
Pengalaman tiga minggu tanpa kabar menjadi pengingat bagi Sontina bahwa komunikasi sederhana memiliki arti besar bagi keluarga yang ditinggalkan. Ia tidak menuntut putranya selalu bisa dihubungi saat bertugas, tetapi berharap Ardinata memberikan kabar ketika jaringan kembali tersedia.
Setiap kali putranya berangkat menjalankan tugas, Sontina selalu berpesan agar Ardinata menjaga kesehatan dan keselamatan. Ia berharap anaknya dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan kembali ke rumah dalam keadaan selamat.***



