Asosiasi Rumput Laut Minta Komitmen Pemerintah

by

1704404rumputt780x390Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) mempertanyakan komitmen pemerintah untuk mendukung investasi, khususnya industri pengolahan rumput laut di Indonesia.

Ketua ARLI Safari Azis mengatakan, saat ini masih banyak hambatan untuk merealisasikan investasi, seperti perizinan dan tingginya biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk mendirikan sebuah industri pengolahan.

Dia menjelaskan, untuk mendirikan sebuah industri rumput laut di China dengan produksi 6 ton per hari, diperlukan biaya sebesar 15 juta dollar AS. Sementara di Indonesia bisa mencapai dua kali lipatnya yakni sebesar 30 juta dollar AS.

“Kita harus mendatangkan mesin-mesin dari luar dan itu harus dikenakan bea masuk dan PPN, memang seharusnya diberikan keringanan. Di China, kalau bisa ekspor produk olahan bisa langsung mendapat restitusi, terutama barang penolong. Rumput laut Indonesia banyak diekspor ke China, nah sekarang apakah pemerintah Indonesia bisa melakukan perlakuan yang sama untuk menarik investasi?,” kata Safari dalam keterangan resminya, Senin (10/11/2014).

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi rumput laut nasional di tahun 2013 mencapai 9.298.474 ton dalam keadaan basah atau 929.847,4 ton dalam keadaan kering.

Berdasarkan Data Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, jumlah ekspor rumput laut nasional paling banyak diekspor ke China mencapai 143.725 ton di tahun 2013 dengan nilai sebesar 1,25 juta dollar AS.

“Kami masih menanti kepastian akan adanya kemudahan untuk perizinan dan kita pun menunggu kejelasan waktu dan biaya yang dikeluarkan. Gagasan Presiden Jokowi untuk membentuk kantor perizinan one stop service khusus bagi investasi kami dukung karena investor memerlukan pendampingan bila menemui hambatan,” kata Safari.

Dia mengaku tengah menjajaki joint venture antara PT Phoenix Jaya dengan tiga perusahaan China antara lain Green Fresh, Fujian Province LVQI Food Colloid dan Lubao Biochemistry.

“Kita sudah membahas kemungkinan adanya investasi masuk dari pihak China joint venture dengan pihak Indonesia untuk mendirikan industri pengolahan rumput laut, terutama untuk produk jenis refined carrageenan. Hanya saja pihak sana menanyakan tentang keamanan dan kepastian investasinya di Indonesia,” kata Safari.