Pertumbuhan Ekonomi Merosot, Riau Diminta Tidak Bergantung Sektor Migas

by

EKONOMIPOS.COM (EPC), PEKANBARU – Buruknya pertumbuhan ekonomi di Riau dalam beberapa tahun terakhir, mesti menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Terutama pemerintah daerah yang diminta tidak lagi terlalu bergantung pada sektor minyak, gas dan kelapa sawit.

“Selama ini memang perekonomian Riau dari perhitungan PDRB masih ditopang sektor minyak dan gas serta sawit,” kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Pekanbaru, Minggu (11/06/2017).

Ia mengatakan, dengan bergantungnya perekonomian Riau dari sektor migas dan perkebunan sawit seperti saat ini, maka sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang terus terseret turun seiring menurunnya produksi mineral tersebut dan merosotnya harga dunia.

Sehingga, katanya, pada 2015 ekonomi Sumatera anjlok hanya tumbuh tiga persen. Semua provinsi yang penopang ekonominya migas dan sawit, yakni Sumatera Selatan, Jambi, Sumut dan Riau lesu.

Walau diakuinya tiga puluh tahun lalu provinsi yang menggantungkan sumber pertumbuhan pada sumber daya alam ini jaya, namun seiring waktu produksi minyak semakin menurun.

“Makanya secepatnya Riau mencari sektor lain yang memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi,” kata dia.

Hal itu bisa dilakukan dengan mencari sumber pertumbuhan ekonomi yang baru. Nilai sektor pariwisata itu bagus sebagai diversifikasi baru untuk Riau sehingga perlu terus didorong. “Karena Riau orangnya ramah, tariannya bagus, makanannya enak-enak,” katanya.

Tetapi, kata dia, untuk itu semua perlu dibangun infrastruktur oleh pemerintah daerah dan pusat, jalan, listrik, kemudahan berusaha, izin investasi mudah dan sebagainya.

Sumber pertumbuhan lain yang juga potensial, yaitu sektor perkebunannya harus ada industri hilirnya.

Perlu dibangun pemrosesan kelapa sawit untuk berbagai produk turunannya. Untuk itu butuh investor yang masuk.

“Jadi supaya ada industri turunan kelapa sawit ini di Riau, investor harus datang, pemerintah daerah undang mereka masuk dan memberikan kemudahan,” imbuhnya. (*)