EKONOMIPOS.COM – Para supir truk logistik enggan melalui jalur bebas hambatan yang baru diresmikan Desember 2018 kemarin itu. Hal ini karena tarif Tol Trans Jawa itu dianggap terlalu mahal.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menilai, ogahnya supir truk lewat Tol Trans Jawa bukan semata-mata karena tingginya tarif. Menurutnya banyak hal yang menjadi faktor.
“Saya kemarin baca di koran ada beberapa yang membuat bapak supir truk tetap cinta pada pantura. Kan itu ada di tulisan. Ada di media,” tuturnya di Kementerian PUPR, Jakarta, Senin (11/2/2019).
Basuki menerangkan, salah satu contoh adalah biaya makan. Menurutnya supir truk memilih lewat Jalur Pantura lantaran banyak warung yang menyediakan makanan yang jauh lebih murah ketimbang di rest area dalam tol.
“Itu juga harus kita perhatikan. Jadi tidak semata mata tarif tolnya menurut saya,” terangnya.
“Mereka bisa ganti ban di mana saja, ada bannya yang mesti diganti mereka bisa berhenti di mana saja ganti ban. Tapi di tol kan ga bisa harus cari rest area. Yang gitu gitu juga menjadi perhatian,” tambahnya.
Seperti dikutip detik finance dari website resmi Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), bpjt.pu.go.id, total tarif Kendaraan Golongan V (truk dengan lima gandar atau lebih) dari Jakarta-Surabaya senilai Rp 1.382.500.
Jumlah tersebut sudah mencakup seluruh ruas tol dari Jakarta hingga Surabaya. Berikut rincian tarifnya :
Jakarta-Cikampek: Rp 13.000
Cikopo-Palimanan: Rp 306.000
Palimanan-Kanci: Rp 32.000
Kanci-Pejagan: Rp 58.000
Pejagan-Pemalang: Rp 115.000
Pemalang-Batang: Rp 78.000
Batang-Semarang: Rp 150.000
Semarang-Solo: Rp 115.500
Solo-Ngawi: Rp 150.000
Ngawi-Kertosono: Rp 176.000
Kertosono-Mojokerto: Rp 138.000
Mojokerto-Surabaya: Rp 51.000
(detikfinance)