EKONOMIPOS.COM (EPC), PEKANBARU – Sejumlah pedagang buah nanas di kawasan sentra perdagangan buah-buahan di Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, mengeluh sepi pembeli, bahkan banyak buah yang terbuang membusuk.
“Hari ini sebanyak 400-an buah nanas membusuk, karena produksi melimpah sementara itu pembeli sepi,” kata Idris (34), pedagang nanas di Rimbo Panjang, Senin (5/6/2017).
Idris menyebutkan, sepinya pembeli dialami para pedagang buah nanas di Rimbo Panjang dan sekitarnya sejak enam bulan terakhir, hingga mengakibatkan pedagang nyaris tidak mendapatkan balik modal.
Ia mengatakan, modal yang dikeluarkan untuk membeli nanas tidak sebanding dengan jumlah keuntungan yang diperoleh dalam penjualan buah nanas ini.
“Pedagang nanas terus merugi, sementara produksi hilir nanas seperti kripik nanas, pun nyaris tidak dilirik pembeli. Produksi menumpuk tetapi penjualan tidak merangkak naik,” keluhnya lagi.
Sama seperti yang dialami Idris, pedagang nanas lainnya, Murni (36) juga mengeluhkan hal yang sama, kripik nanas diproduksi usaha rumah tangga itu pun tidak banyak terjual.
Murni berharap Pemerintah Provinsi Riau bisa mendirikan sebuah pabrik buah kaleng nanas sehingga pedagang pun bisa memasarkannya secara bersamaan dengan produksi nanas petani.
“Pedagang diyakini tidak akan terus merugi, karena ada keuntungan lain yang bakal diterima dari penjualan buah kaleng nanas itu,” katanya.
Ia menyebutkan, harga nanas per butir saat ini untuk jenis nanas madu (ukuran kecil, red) sebesar Rp2.500/buah. Harga nanas ukuran sedang, menengah dan besar masing-masing dijual sebesar Rp3.500, Rp4000, dan Rp6.000 per buah. (*)