Jangan Beli Emas, Lebih Baik Nabung di Bank

by

emasEkonomiPos, New Delhi – Perdana Menteri Narendra Modi akhirnya angkat bicara soal turunnya  harga emas di pasar internasional. Dia mengingatkan rakyatnya agar menginvestasikan uangnya di bank ketimbang memborong emas.

Meski dianggap sebagai investasi yang tidak produktif, menabung dinilai lebih aman daripada  membeli emas yang harganya terus merosot. Imbauan ini bukanlah tanpa alasan. Pasalnya, laporan World Gold Council beberapa waktu lalu menyebut India sebagai  konsumen emas terbesar di dunia.

Modi mengungkapkan sebenarnya warga India memiliki kebiasaan yang baik dalam hal tabungan, namun kebiasaan ini telah  dialihkan ke emas dari waktu ke  waktu. Orang-orang membeli emas karena secara psikologis mereka merasa aman.

Tantangan bagi bank adalah untuk meyakinkan orang-orang bahwa rekening bank akan menjamin kemudahan akses ke tabungan mereka bila diperlukan,”kata Modi.
Impor emas telah menyebabkan terjadinya defisit transaksi berjalan India meningkat menjadi 2,1  persen dari PDB selama periode Juli-September 2014. Harga yang lebih rendah dan prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih baik mendorong permintaan emas di India.

Total permintaan emas India berjumlah 225 ton pada kuartal III 2014. Jumlah tersebut mengalahkan pembelian emas di China dan Taiwan seberat 194,1 ton pada periode yang sama. Secara keseluruhan, permintaan emas India meningkat 60 persen menjadi 182,9 ton selama tiga bulan hingga September.

Lalu bagaimana dengan proyeksi harga emas tahun ini?

Harga emas diprediksi masih tertekan pada semester I 2015 karena pasar mengantisipasi kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) terkait kenaikan suku bunga acuan.  Namun setelah kebijakan itu diambil The Fed, harga logam kuning itu akan berkilau di akhir tahun.

Para pengamat pasar menyatakan saat The Fed mengungkapkan rencana untuk menaikkan suku bunga acuan, perhatian pasar terus tertuju pada seberapa tingkat kenaikan suku bunga tersebut.

Pasalnya, suku bunga yang lebih tinggi akan menekan harga emas sehingga menjadi alasan bagi investor untuk mengalihkan uangnya ke mesin investasi yang menghasilkan untung yang lebih tinggi. Dan Emas tidak masuk di dalamnya.

Pejabat The Fed pada akhir Oktober lalu memutuskan untuk mengakhiri program pembelian obligasi senilai US$ 85 miliar per bulan.

Pemberian dana stimulus tersebut atau yang dikenal dengan sebutan Quantitative merupakan langkah yang diambil The Fed untuk mendukung ekonomi AS usai diterjang krisis pada 2007-2008. Keputusan penarikan dana stimulus tersebut diambil setelah melihat pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam tersebut.

Dengan data ekonomi AS terkini, di mana tingkat pengangguran di bawah 6 persen dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 3,9 persen pada kuartal III 2014, para ekonom memprediksi The Fed bakal mengambil posisi untuk menaikkan suku bunga pada semester II 2015.

Senior analis dari Thomson Reuters GFMS, Erica Rannestad sepakat bahwa harga emas akan makin murah di semester I 2015 karena The Fed diprediksi akan melakukan sebuah tindakan yang akan menjadi arah penentu pergerakan harga emas.

Dia menilai harga emas sepertinya akan berkonsolidasi pada tahun depan. Rannestad memperkirakan rata-rata harga emas di 2015 yaitu US$ 1.175 per ounce, dengan harga tertinggi berada pada semester II 2014.

Proyeksi ini hanya lebih rendah dari perkirakan analis dari Commerzbank yang menyebut rata-rata harga emas yaitu US$ 1.200 per ounce. Mereka juga memprediksi harga emas bakal lebih rendah di semester I 2014.

Begitu pula hasil riset dari Citi yang mengestimasikan rata-rata harga emas pada 2015 yaitu US$ 1.220 per ounce. TD Securities mematok rata-rata US$ 1.225 per ounce dan Natixis memproyeksikan rata-rata harga emas US$ 1.140 per ounce. (Ndw/liputan6)