Mengapa Ada Pada Sarden? Simak Penjelasan Dokter Hewan Tentang Cacing Anisakis SP

by

EKONOMIPOS.COM-PEKANBARU Di Riau beberapa waktu belakangan warga dihebohkan dengan ditemukannya cacing dalam sarden merk mackerel. Peristiwa itu ditemukan di Kebupaten Kepulauan Meranti dan Inhil, Riau akhir pekan lalu.

Sarden jenis makanan yang banyak diminati masyarakat. Makanan ini hamper pernah dicicipi semua orang, karena rasanya yang enak dan harganya murah. Soal kasus penemuan cacing dalam sarden ini, semula cacing itu dianggap cacing pita.

Namun menurut hasil analisa sementara oleh tim dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Riau, bahwa itu bukan cacing pita. “Tapi jenis cacing Anisakis sp,” kata Kepala BBPOM Riau, M Kashuri kepada bertuahpos.com, Rabu 21 Maret 2018.

Dokter Hewan, drh. Supriyanto MVPH dari Jogjakarta melempar postingannya.

“Melihat beberapa postingan tentang adanya cacing pita pada ikan sarden mackerel, saya jadi ingat saat praktikum bersama sobat kental saya Aria Ika Septana di Vetmed University Vienna,” ujar Supriyanto dalam postingannya. Pernyataannya itu kemudian dikuti dikutp oleh SurabayaPost.id, akhir pekan lalu.

Saat melihat beberapa postingan tentang cacing pada sarden itu, dia sudah mengeluarkan pernyataan kalau itu bukan cacing pita. “Itu jenis cacing gilig nematoda bukan cacing pita. Biasanya dari golongan Anisakis sp.

Mengapa ada pada ikan? Memang tidak semua ikan mengandung parasit tapi ada beberapa ikan dari laut yang bisa saja terdapat cacing di dalamnya dan bukan hanya pada jenis ikan mackarel saja tapi tuna, salmon, dan lain-lain. Juga bisa

Sementara soal ada cacing dalam sarden, kata dia, bisa saja, ikan yang telah mengandung cacing atau parasit di dalamnya kemudian diproses dan dipacking. Proses pemanasan suhu tinggi, pemasakan, pendinginan sampai suhu beku dan pengalengan seharusnya bisa membunuh parasit tersebut.

Proses pemasakan, penggaraman dan pengasapan yang tidak sempurna, diketahui masih menyebabkan parasit tersebut hidup.

“Ya berbahaya. Anisakis sp terutama yang masih hidup dan infektif diketahui bisa menyebabkan peradangan akut pada saluran cerna bahkan meningitis. Infeksi cacing paling sering terjadi karena makan ikan mentah, sushi similikithi dan sejenisnya. Yang terinfeksi parasit. Menurut beberapa kasus, pernah dilaporkan adanya reaksi alergik, mual muntah diare karena makan ikan yang mengandung parasit ini meskipun sudah dimasak matang.”

Cara mendeteksi adanya cacing ini, sederhananya adalah dengan menggunakan penyinaran sinar uv (ultra violet).

“Saya ingat sekali praktikum waktu itu. Ikan segar kemasan plastik vakum. Terus kita remet-remet sampai halus (masih dalam kemasan), lalu kita pipihkan. Selanjutnya kita masuk ke ruang, lampu semua kita matikan sehingga gelap. Selanjutnya dengan sinar uv yang biasa dipakai untuk memeriksa uang palsu, kita taruh ikan yang sudah kita remet-remet tadi diatasnya. Kalau ada cacing nya, akan tampak bentukan cacing yang bersinar. Hal ini terjadi karena kandungan fosfor di dalamnya,” ujarnya.

“Tidak perlu khawatir berlebihan. Tidak semua ikan ada parasitnya kayak gini. Ikan yang dipelihara secara intensif cenderung lebih aman daripada yang berasal dari alam liar meskipun sekali lagi tidak semua ikan dari laut lepas mengandung parasit ini.”(*)