• Redaksi
  • Info Iklan
  • Editorial
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Tuesday, October 13, 2026
Ekonomi Pos
  • Home
  • Lifestyle
  • Insight
  • Finance
  • Industry
  • Showbiz
  • Advertorial
  • Daerah
    • Bengkalis
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Rokan Hilir
No Result
View All Result
EkonomiPos.Com
No Result
View All Result

BI Revisi Target Pertumbuhan Kredit 2019

22/11/2019
Share on FacebookShare on Twitter

EKONOMIPOS.COM-Bank Indonesia merevisi pertumbuhan target penyaluran kredit menjadi 8 persen hingga akhir tahun 2019. Begitu pula dengan target pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang dipatok sebesar 8 persen. Sebelumnya, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan dapat tumbuh di kisaran 10 persen-12 persen dan DPK di kisaran 7 persen-9 persen pada 2019. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan kredit melambat dari 8,59 persen yoy pada Agustus 2019 menjadi 7,89 persen yoy pada September 2019. Perlambatan paling besar terutama dipengaruhi oleh permintaan kredit korporasi yang belum kuat.

Sementara itu, pertumbuhan DPK pada September 2019 tercatat sebesar 7,47 persen yoy, menurun dibandingkan dengan pertumbuhan Agustus 2019 sebesar 7,62 persen yoy. Selain itu, imbuh Perry, stabilitas sistem keuangan juga terjaga yang tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan September 2019 yang tinggi yakni sebesar 23,19 persen, Dia menambahkan, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) bank meningkat tipis pada September 2019, namun masih berada pada posisi yang rendah yakni sebesar 2,66 persen gross atau 1,18 persen net.

Penurunan GWM

Di sisi lain, Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2019 memutuskan untuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah sebesar 50 bps.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kebijakan tersebut ditempuh guna menambah ketersediaan likuiditas perbankan dalam meningkatkan pembiayaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dari penurunan GWM sebesar 50 bps, maka bank akan mendapat tambahan likuiditas sebesar Rp26 triliun, yakni bank umum mendapat tambahan likuiditas sebesar Rp24,1 triliun dan bank umum syariah sebesar Rp1,9 triliun.

Selain itu, kata Perry, kebijakan tersebut ditempuh karena BI masih melihat terjadinya segmentasi dan perebutan likuiditas antar bank, khususnya bank umum kegiatan usaha (BUKU) I,II, dan III meski secara agregat kondisi likuiditas bank secara industri membaik.

“Memang secara agregat jumlah likuiditas cukup, tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga [AL/DPK] sebesar 19,43%, cuma masalahnya distribusi likuiditas antar bank tidak merata, bank kategori BUKU III, II, dan I memang mengalami kekurangan dana karena persaingan DPK,” jelas Perry usai RDG, Kamis (21/11/2019).

Editor Roy

Share76Tweet48

Kabar Terkait

Pimpin Upacara HUT Siak, Bupati Afni Sampaikan Pesan Kesetiaan dan Keadilan
Berita Siak

Pimpin Upacara HUT Siak, Bupati Afni Sampaikan Pesan Kesetiaan dan Keadilan

13/10/2026
Jasa Raharja dan Kejati Sumut Perkuat Sinergi Kelembagaan dan Tata Kelola Perusahaan
Berita

Jasa Raharja dan Kejati Sumut Perkuat Sinergi Kelembagaan dan Tata Kelola Perusahaan

13/10/2026
Dorong Transformasi Digital Pelayanan Korban Kecelakaan, Jasa Raharja Perkuat Kolaborasi dengan Rumah Sakit Seluruh Indonesia
Berita

Dorong Transformasi Digital Pelayanan Korban Kecelakaan, Jasa Raharja Perkuat Kolaborasi dengan Rumah Sakit Seluruh Indonesia

12/10/2026
Load More
EkonomiPos.Com

We bring you the best Economy News

  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Editorial
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

© 2025 EkonomiPos.com.

No Result
View All Result
  • Home
  • Lifestyle
  • Insight
  • Finance
  • Industry
  • Showbiz
  • Advertorial
  • Daerah
    • Bengkalis
    • Indragiri Hilir
    • Indragiri Hulu
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Rokan Hilir

© 2025 EkonomiPos.com.

Go to mobile version