Kisah Keturunan Indonesia ‘Terdampar’ di Vietnam

by

downloadEkonomipos.com, Ho Chi Minh – Keberadaan orang keturunan Indonesia ternyata tidak hanya di Singapura atau Malaysia. Di Vietnam, terdapat sekelompok warga yang merupakan keturunan Indonesia. Mereka berasal dari Pulau Bawean, Jawa Timur, dan tinggal di Ho Chi Minh sejak masa pemerintah kolonial Belanda.
Mereka ‘terdampar’ di Vietnam karena alasan yang berbeda-beda. Sebagian memang karena merantau dan sebagian lagi karena bekerja untuk pemerintah kolonial Prancis yang berkuasa di Vietnam.

Namun, sebagian besar dari perantau keturunan Indonesia itu tidak dapat pulang ke kampung halaman, karena tidak memiliki dokumen kewarganegaraan dan tidak lagi memiliki hubungan dengan kerabat di Pulau Bawean.

Warga Vietnam keturunan Indonesia ini disebut orang Bawean atau Boyan. Sebagian besar tinggal di sekitar Masjid Al Rahim di Distrik 1 Ho Chi Minh.

Salah satunya adalah pemimpin Masjid Al Rahim, Imam Haji Ally, 86 tahun. Haji Ally berada di Vietnam karena mengikuti kedua orangtuanya yang pergi ke Ho Chi Minh pada masa penjajahan Belanda. Ketika itu, Haji Ally baru menginjak usia 11 tahun.

Haji Ally mengatakan, ayahnya bekerja pada pemerintah kolonial sebagai teknisi mesin. “Ayah saya dulu kerja di bagian teknik pada masa penjajahan. Saya tak ingat betul berapa orang yang ikut dari Indonesia,” jelas Ally dalam bahasa Melayu, seperti dikutip dari BBC, Senin (3/8/2015).

Imam Ally menjelaskan, keturunan Bawean juga telah menikah dengan warga Vietnam ataupun pindah ke Malaysia dan Singapura.

Menelusuri Sungai Mekong

Tidak ada catatan yang pasti kapan orang Bawean pertama tiba di Vietnam. Namun mereka tiba saat Vietnam masih berada dalam jajahan Prancis. Orang-orang Bawean di Vietnam ini kemudian membangun Masjid Al Rahim dengan menggunakan kayu.

Salah satu masjid tertua di Vietnam itu dibangun pada 1885. Kemudian masjid mengalami beberapa perubahan dengan dana dari sumbangan donatur. Renovasi terakhir dilakukan sekitar dua tahun lalu sama sekali mengubah bentuk aslinya.

Pakar studi Vietnam, Malte Stockhof, yang pernah meneliti tentang keturunan Bawean di Ho Chi Minh mengatakan, para perantau dari Bawean kemudian ada yang memilih tinggal di Singapura dan ada juga yang melanjutkan perjalanan ke Mekah.

Menurut Stockhof, orang-orang Bawean yang menempuh perjalanan melalui Sungai Mekong bekerja dengan para pedagang dari Cina dan kemudian mencari pekerjaan ketika tiba di Saigon (Ho Chi Minh).

Tak ada data yang pasti mengenai jumlah keturunan dan orang-orang asal Bawean di Vietnam. Namun, Imam Ally memperkirakan sekitar 400 orang. Dari jumlah tersebut, hampir tidak ada yang menguasai bahasa Indonesia ataupun bahasa Bawean. Bahkan tradisi daerah asal pun tidak ada yang diteruskan.

“Sehari-hari kita menggunakan bahasa Vietnam, hanya orang tua saja yang bisa berbicara bahasa Melayu. Ada juga anak-anak muda yang bisa bahasa Indonesia karena sekolah di sana,” jelas Imam Ally.

Imam Ally menikah dengan perempuan asli Vietnam dan anak-anaknya tinggal di Singapura dan Malaysia.

Hampir seluruh keturunan Bawean yang tinggal di Vietnam tidak memiliki identitas sebagai WNI, karena mereka tiba di negara tersebut ketika Indonesia belum merdeka.

Masalah kewarganegaraan ini muncul setelah Vietnam Selatan yang didukung Amerika Serikat dikalahkan oleh Vietnam Utara pada 1975. Perubahan situasi politik dan keamanan di Vietnam membuat keturunan Bawean di Ho Chi Minh merasa khawatir, apalagi banyak juga dari mereka yang bekerja dengan AS.

Malte Stockhof mengatakan sejumlah keturunan Bawean di Vietnam berupaya untuk pulang, tetapi terkendala dokumen dan terputusnya kontak dengan keluarga di kampung halaman.

“Yang berhasil mengontak kerabatnya dapat pulang ke Bawean, tetapi jumlahnya sangat sedikit karena alat komunikasi yang sangat terbatas pada masa itu,” jelas Stockhof. (Liputan6)