Pengangkutan Sampah di Pekanbaru Dilelang dengan Pagu Rp 177 Miliar

by

PEKANBARU – Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kota Pekanbaru secara resmi mengumumkan lelang proyek pengangkutan sampah, Senin (29/1).

Penelusuran di laman website LPSE Pekanbaru, lelang proyek pengangkutan sampah dibagi menjadi dua zona.

Zona 1 lokasi pekerjaan mencakup Kecamatan Tampan, Payung Sekaki, Marpoyan Damai dan Pekanbaru Kota. Nilai pagu anggaran untuk Zona 1 sebesar Rp 88.792.555.692.

Sedangkan untuk Zona 2 nilai pagu anggaranya sebesar Rp 89.389.830.792. Lokasi pekerjaan Kecamatan Sukajadi, Senapelan, Pekanbaru Kota, Limapuluh, Sail, Bukit Raya, Tenayan Raya dan Pekanbaru Kota.

Jika ditotal nilai pagu anggaran untuk ke dua zona tersebut sebesar Rp 177 miliar lebih.
“Iya sudah kita umumkan lelangnya mulai hari ini. Bagi yang berminat silahkan mendaftar. Karena ini lelangnya terbuka, jadi siapa saja bisa ikut,” kata Kepala ULP Kota Pekanbaru, Musalimin.

Saat ditanya berapa lama proses pendaftaran lelang proyek tersebut dibuka, Musalimin tidak bisa memastikan. Sebab seluruh kewenangan untuk memproses lelang proyek tersebut ada di bagian Kelompok Kerja (Pokja) ULP Kota Pekanbaru.

“Kalau berapa lama itu Pokja yang lebih paham. Pokja bekerja sesuai dengan Perpres yang ada. Semua tahapan wajib dijalankan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” jelas dia.
Pihaknya menargetkan proses lelang proyek multiyears sampah bisa dituntaskan hingga akhir Februari mendatang.

“Sesuai dengan tahapan, saya dapat laporan dari Pokja itu bisa selesai akhir bulan depan. Mudah-mudahan tidak ada kendala,” katanya.

Walikota Firdaus MT mempekirakan proses lelang hingga pengumuman pemenang sampai proses pekerjaan di lapangan oleh pihak ketiga memakan waktu selama lebih kurang 1,5 bulan. Rinciannya, proses lelang hingga pengumuman lelang memakan waktu 30 hari, dan dua pekan lagi persiapan perusahaan pemenang tender jelang melakukan pekerjaan di lapangan.

“Selama 1,5 bulan ke depan DLHK mesti kerja keras melakukan swakelola sampah. Tentu dengan keterbatasan armada dan biaya yang ada. Mau gimana lagi, ini resiko pekerjaan,” pungkasnya. (*)